BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Para siswa yang bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung
Pura adalah generasi penerus bangsa yang masih remaja. Mereka memerlukan banyak
pembinaan sebagai persiapan menuju jenjang kedewasaan. Keberhasilan pembinaan
mereka menjadi sumbangan yang amat besar dalam usaha membina generasi yang
bermoral. Sebaliknya kegagalan dalam membina mereka merupakan suatu bibit
bencana bagi kelansungan hidup bangsa.
Pembinaan pelajar mempunyai
makna penting, lebih-lebih pada akhir-akhir ini sering terdengar berbagai
masalah terhadap pelajar tersebut, seperti perkelahian antar kelompok atau
sekolah, kenakalan remaja, minum-minuman keras, berjudi, narkoba serta
pergaulan bebas dan sebagainya. Keadaan ini semuanya menunjukkan kemerosotan
moral di kalangan pelajar.
Untuk mengatasi hal tersebut,
salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah memberikan pendidikan karakter
yang baik dari orang tua kepada pelajar. Dengan adanya pendidikan karakter yang
baik dari orang tua tersebut, maka akan terwujud generasi muda yang bermoral.
Melalui pendidikan karakter dari orang tua maka pelajar dapat memperoleh suatu
citra tentang sosok pribadi muslim yang yang dapat dijadikan teladan dalam
kehidupannya. Dengan demikian sangatlah penting pendidikan karakter dari orang
tua bagi pembinaan moral pelajar dalam kehidupan mereka.
Berdasarkan latar belakang
masalah diatas, maka penulis tertarik membahas hal tersebut dalam penelitian
karya ilmiah ini. Untuk itu dipihlah judul penelitian karya ilmiah ini: “Pengaruh
Pendidikan Karakter dari Orang Tua terhadap Sikap Pelajar dalam Pengamalan
Moral di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura “
B.
Ruang Lingkup Masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah diatas, maka dapat dikemukakan ruang lingkup masalah yang akan diteliti
adalah sebagai berikut :
1.
Pendidikan karakter
dari orang tua bagi pelajar;
2. Sikap pelajar dalam pengamalan
moral;
3. Pengaruh pendidikan karakter dari orang tua terhadap sikap pelajar dalam pengamalan moral.
C.
Rumusan Masalah
Berdasarkan ruang lingkup masalah
diatas dapat dikemukakan rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1.
Bagaimanakah
pendidikan karakter dari orang tua bagi pelajar di Madrasah Aliyah Negeri 2
Tanjung Pura?
2.
Bagaimanakah sikap
pelajar dalam pengamalan moral pelajar di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura?
3.
Bagaimanakah pengaruh
pendidikan karakter dari orang tua terhadap sikap pelajar dalam pengamalan
moral di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura?
D.
Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin
dicapai dalam kegiatan penelitian ini adalah:
1.
Untuk mengetahui pendidikan
karakter dari orang tua bagi pelajar di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura;
2.
Untuk mengetahui sikap
pelajar dalam pengamalan moral pelajar di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura;
3.
Untuk mengetahui
pengaruh pendidikan karakter dari orang tua terhadap sikap pelajar dalam
pengamalan moral di kota
Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura.
E.
Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam kegiatan
penelitian ini adalah:
1.
Sebagai suatu kegiatan
untuk menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang masalah pendidikan
karakter dari orang tua bagi pelajar, sikap pelajar dalam pengamalan moral dan
pengaruh pendidikan karakter dari orang tua terhadap sikap pelajar dalam
pengamalan moral;
2.
Sebagai sumbangan
bagai karya tulis tentang masalah pendidikan karakter dari orang tua bagi
pelajar, sikap pelajar dalam pengamalan moral dan pengaruh pendidikan karakter
dari orang tua terhadap sikap pelajar dalam pengamalan moral;
3.
Sebagai sumbangan
pemikiran bagi orang orang tua dan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan
tersebut, sehingga diwujudkan dalam pengamalan moral yang lebih baik pada
pelajar.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A.
Kerangka Teori
1.
Pengertian Pendidikan
dan Karakter
Menurut
Drs. M. Ngalim Purwanto sebagimana dikutip oleh Anwar Pendidikan ialah
"Segala usaha orang dewasa dalam
pergaulan dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya ke
arah kedewasaan."[1]
Menurut KBBI (1997:232)
“ pendidikan adalah proses pengubahan sikap orang atau tata laku seorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran
dan pelatihan proses, cara mendidik.”
Dari kedua defenisi di atas dapat diketahui bahwa
pendidikan terjadi antara - Orang dewasa dengan orang belum dewasa (anak-anak).
Pendidikan berlangsung melalui proses-proses
Semua langkah-langkah dalam proses pendidikan mempunyai tujuan-tujuan yan
terjadi interaksi edukasi.
Menurut KBBI (1997:444)
“karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan
seseorang dengan orang lain.”
Karakter adalah cara berpikir
dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu
yang berkarakter baik adalah
individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap
akibat dari keputusan yang ia buat. Pembentukan karakter merupakan salah satu
tujuan pendidikan nasional. Pasal I UU Sisdiknas tahun 2003 menyatakan bahwa di antara tujuan
pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik untuk memiliki
kecerdasan, kepribadian dan akhlak mulia. Amanah UU Sisdiknas tahun 2003 itu
bermaksud agar pendidikan tidak hanya membentuk insan Indonesia yang cerdas,
namun juga berkepribadian atau berkarakter, sehingga nantinya akan lahir
generasi bangsa yang tumbuh berkembang dengan karakter yang bernafas
nilai-nilai luhur bangsa serta agama.[2]
2.
Pendidikan Karakter dari Orang Tua
Berbagai tanggung jawab besar harus dipikul para orang tua atas
pendidikan anak, baik yang berkenaan dengan iman, moral, mental jasmani maupun
rohani. Tak diragukan bahwa tanggung jawab tersebut merupakan tanggung jawab
yang paling besar dalam pendidikan anak. Orang tua yang baik tentu akan mencari
berbagai metode yang lebih efektif, seperti dengan keteladanan, kebiasaan,
memberikan mandat, memberikan nasehat, memberikan perhatian dan hukuman.
Mencari kaidah-kaidah pendidikan karakter yang berpengaruh dalam mempersiapkan
anak secara mental dan motal, saintikal, spiritual dan etos sosial, sehinggga dapat
mencapai kematangan yang sempurna. Diantara cara-cara praktis yang patut
digunakan oleh keluarga untuk menanamkan semangat pengamalan moral pada anak
dengan cara :
Memberikan
teladan yang baik kepada mereka tentang kekuatan iman kepada Allah dan berpengaruh
pada ajaran-ajaran agama dalam bentuk yang sempurna dalam waktu tertentu,
membaiasakan mereka menunaikan syiar-syiar agama semenjak kecil sehingga
penuaian itu menjadi kebiasaan yang mendarah daging, mereka melakukannya dengan
kemauaan sendiri dan merasakan tentram sebab mereka melakukannya, menyiapkan
suasana agama dan spiritual yang sesuai dirumah dimana mereka berada.[3]
Namun dalam penelitian ini yang akan dibahas adalah pendidikan karakter
dari orang tua. Pendidikan karakter adalah usaha yang dilakukan secara individu
dan sosial dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan
kebebasan individu itu sendiri.[4]
Secara
sederhana pendidikan karakter adalah segala
sesuatu yang Anda lakukan yang mempengaruhi karakter anak-anak yang Anda ajar. Namun
secara lebih fokus, kita lihat seperti yang diutarakan Dr Thomas Lickona
mengenai definisi Pendidikan Berkarakter, bahwa “pendidikan berkarakter
adalah usaha sengaja untuk membantu orang memahami, peduli, dan bertindak
berdasarkan nilai-nilai etika inti.” Dalam bukunya, Educating for
Character,1 Dr Lickona menegaskan bahwa “Ketika kita berpikir tentang
jenis karakter yang kita inginkan bagi anak-anak kita, jelas bahwa kita ingin
mereka bisa menilai apa yang benar, peduli secara mendalam tentang apa yang
benar, dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini untuk menjadi benar bahkan
dalam menghadapi tekanan dari luar dan godaan dari dalam”.
Dalam hal ini Indonesia Heritage Foundation merumuskan
nilai-nilai yang patut diajarkan kepada anak-anak untuk menjadikannya pribadi
berkarakter. Ratna Megawangi menamakannya "9 Pilar Karakter", yakni
1.
cinta Tuhan dan
kebenaran;
2.
bertanggung jawab, berdisiplinan, dan mandiri;
3.
mempunyai amanah;
4.
bersikap hormat dan
santun;
5.
mempunyai rasa kasih
sayang, kepedulian, dan mampu kerja sama;
6.
percaya diri, kreatif, dan pantang menyerah;
7.
mempunyai rasa keadilan dan sikap kepemimpinan;
8.
baik dan rendah hati;
9.
mempunyai toleransi dan cinta damai.[5]
Pendidikan karakter bukanlah sebuah mata pelajaran yang harus dihafal.
Pendidikan karakter merupakan keseluruhan proses pendidikan yang dialami
seorang pelajar sebagai pengalaman pembentukan kepribadian melalui memahami dan
mengalami sendiri nilai-nilai, keutamaan-keutamaan moral, nilai-nilai ideal
agama, nilai-nilai moral Pancasila, dan sebagainya.
“…pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran
(intellect), dan tubuh anak.
Bagian-bagian itu tidak boleh
dipisahkan agar kita dapat memajukan kesempurnaan hidup anak-anak kita..”
[6]
Orang tua yang gemar bekerja keras, disiplin, setiap pada nilai-nilai
moral, agama, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan akan membantu
pembentukan karakter seorang siswa. Demikian pula guru yang terbuka, dedicated,
jujur dan adil atau masyarakat dan negara yang menjunjung tinggi kebebasan,
demokrasi, multikulturalisme, keadilan sosial, dan sebagainya. Inilah
lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter.
Dalam konteks pembimbingan orang tua terhadap remaja, ada tiga jenis pola
asuh yang dapat diterapkan oleh orang tua, yaitu:
a. Pola asuh “bina kasih”
(induction)
b. Pola asuh “unjuk kuasa” (power
assertion)
c. Pola asuh “lepas kasih” (love
withdrawal).[7]
Untuk kepentingan anak seharusnya orang tua memberikan
pendidikan yang bisa diterima anak tanpa merasa terpaksa. Ingat, proses pendidikan adalah wahana
untuk memberikan pengetahuan kepada anak-anak, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu.
Ketika kita ingin semua murid atau anak kita pintar secara akademik, tanpa
melihat potensi yang lain, itu sama saja dengan mendidiknya secara keras.
Itulah kiranya yang tidak harus dilakukan oleh orang tua ketika mengelola
anak-anak untuk kemajuan bangsa pada masa mendatang.[8]
Oleh karena itu Islam mengakui adanya metode pendidikan dengan cara
keteladanan yang diberikan oleh orang tua. Allah berfirman:
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullulah itu suri
tauladan yang baik”[9]
Ada pepatah
mengatakan, ”Jika engkau ingin melihat masa depan suatu bangsa, maka lihatlah
kondisi generasi penerusnya hari ini”. Oleh karena itu pembentukan karakter
terbaik pada anak menjadi hal yang sangat penting karena anak merupakan
generasi penerus yang akan melanjutkan eksistensi bangsa. Berbagai pendapat
dari banyak pakar pendidikan anak menyatakan bahwa terbentuknya karakter
kepribadian manusia ditentukan oleh faktor nature dan nurture.
Pengaruh nature yaitu pengaruh alami atau yang dikenal
sebagai fitrah. Agama mengajarkan bahwa setiap manusia yang lahir memiliki
fitrah mencintai kebaikan. Di dalam sebuah hadist Qudsi digambarkan bahwa
manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), seperti yang diriwayatkan oleh
Muslim, Allah SWT berfirman: ”Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hambaku
dalam keadaan lurus, suci dan bersih. Kemudian datanglah setan-setan yang
menggelincirkan mereka dan menyesatkannya dari kebencian agama mereka. Dan
setan-setan pun telah mengharamkan segala sesuatu bagi mereka apa-apa yang
telah Aku halalkan.” Namun, faktor nature atau fitrah bersifat potensial
atau belum termanifestasikan ketika manusia dilahirkan,maka dibutuhkan faktor
lain untuk mendukung pembentukan karakter kepribadian seseorang yaitu faktor
lingkungan.
Pengaruh nurture yaitu faktor lingkungan. Lingkungan mempunyai
peranan dalam mempengaruhi perkembangan karakter pada anak-anak. Seorang anak
telahir untuk memiliki fitrah yang baik, tetapi jika lingkungan sekitarnya
kurang mendukung maka potensi fitrah yang baik tersebu tidak akan terbentuk dan
justru memunculkan karakter-karakter yang bertentangan dengan fitrah manusia.
Oleh karena itu, pendidikan karakter sejak usia anak-anak sangat penting untuk
membentuk karakter kepribadian seseorang yang tentunya sebagai unsur terkecil
pembentuk bangsa, kualitas SDM tersebut juga akan membentuk karakter
kepribadian bangsa itu.
Perilaku keseharian orang tua yang dirasakan anak termasuk hal yang
memiliki batas pengaruh tersendiri di dalam jiwa dan kepribadian anak. Sigmun
Fred sebagaimana dikutip Juniar (2007, Keteladanan Orang Tua dan Hubungan dengan
Minat Membaca Al-Quran bagi Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Tanjung Pura) mengatakan bahwa: ” keberagaman anak terpola dengan
tingkah laku bapaknya, pengaruh ini oleh Sigmun Fred disebut Father Image. Jadi Baik buruknya citra
bapak akan mempengaruhi sikap keberagaman anak.[10]
Anak akan tumbuh dalam kebaikan kan terdidik dalam
keutamaan akhlak jika ia melihat kedua orang tuanya memberikan pendidikan
karakter yang baik. Penulis beranggapan bahwa pendidikan karakter yang baik
dari orang tua merupakan faktor yang sangat memberikan bekas dalam memperbaiki
anak, memberi petunjuk dan mempersiapkannya menjadi anggota masyarakat yang
secara bersama-sama mengembangkan kehidupan.
Dengan demikiaan, perlu diketahui oleh para orang tua
bahwa pendidikan karakter adalah penopang dalam meluruskan kenakalan anak.
Bahkan merupakan dasar dalam meningkatkan keutamaan, kemuliaan dan etika sosial
yang terpuji. Tanpa memberikan teladan yang baik, pendidikan anak tidak akan
berhasil dan nasehat tidak akan berpengaruh.
3.
Sikap Siswa dalam Pengamalan
Moral
Salah satu satu hal penting bagi siswa dalam pelaksanaan moral di
masyarakat adalah sikap. J.T Lobby Loekmono mengemukakan tentang sikap sebagai
berikut :
Sikap merupakan
kecenderungan di dalam diri subjek untuk menerima atau menolak sesuatu
berdasarkan penilaian. Sikap ada hubungannya dengan perasaan dan pengalaman.
Bila pengalaman yang diperoleh menimbulkan perasaan aman dan senang, maka akan
timbul pola-pola sikap tertentu yang cenderung akan selalu diulang dan
dipertahankan; sebaliknya bila pengalaman yang diperoleh tidak menimbulkan rasa
senang dan aman, maka sikap yang akan ditunjukkan adalah menolak atau
menghindari.[11]
W.J Thomas sebagimana dikutip oleh J.T Lobby Loekmomo memberi batasan
“Sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukanm perbuatan-perbuatan
nyata ataupun mungkin akan terjadi di kegiatan-kegiatan sosial.”[12]
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa sikap merupakan suatu kesadaran
individu terhadap sesuatu perbuatan yang akan dilakukannya. Kesadaran tersebut
merupakan hasil penilaian dengan berdasarkan pengalaman dan perasaan. Bila
pengalaman yang diperoleh menimbulkan rasa senang dan aman, maka timbullah
tindakan menerima atau mempertahankannya. Pola-pola sikap tertentu akan terus
dipertahankan. Sebaliknya bila pengalaman yang diperoleh tidak menimbulkan
perasaan senang dan aman, maka sikap yang ditunjukkan akan menolak dan
menghindarinya.
Istilah moral
berasal dari bahasa Latin “mores” yang artinya tata cara dalam kehidupan, adat
istiadat, atau kebiasaan. Moral pada dasarnya merupakan rangkaian nilai tentang berbagai macam
perilaku yang harus dipatuhi. Moralitas merupakan aspek kepribadian yang
diperlukan seseorang dalam kaitannya dengan kehidupan sosial secara harmonis,
adil dan seimbang.[13]
Merurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997:665) “moral adalah baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan,
sikap kewajiban dan sebagainya.”
Mitchell telah meringkaskan lima perubahan dasar dalam moral yang harus dilakukan
oleh remaja yaitu:
d.
pandangan moral individu semakin lama semakin menjadi lebih abstrak dan
kurang konkret;
e.
Keyakinan moral lebih berpusat pada apa yang benar dan kurang pada apa yang
salah. Keadilan
muncul sebagai kekuatan moral yang dominan;
f.
Penilaian moral menjadi semakin kognitif. Ia mendorong remaja lebih berani
menganalisis kode sosial dan kode pribadi dari pada masa anak-anak dan berani
mengambil keputusan terhadap berbagai masalah moral yang dihadapinya;
g.
Penilaian moral menjadi kurang egosentris;
h.
Penilaian moral secara psikologis menjadi lebih mahal dalam arti bahwa
penilaian moral merupakan bahan emosi dan menimbulkan ketegangan psikologis.[14]
Ada tiga tugas pokok remaja dalam mencapai moralitas remaja dewasa, yaitu:
a.
Mengganti konsep moral khusus dengan konsep moral umum.
b.
Merumuskan konsep moral yang baru dikembangkan ke dalam kode moral sebagai
kode prilaku.
c.
Melakukan pengendalian terhadap perilaku sendiri.[15]
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2006 yang
berisikan Standar Kelulusan Siswa yang mengarah pada pendidikan karakter bagi
seorang pelajar yaitu:
1.
Berperilaku sesuai dengan ajaran agama yang dianut sesuai dengan
perkembangan remaja
2.
Mengembangkan diri secara optimal dengan memanfaatkan kelebihan diri serta
memperbaiki kekurangannya
3.
Menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku,
perbuatan, dan pekerjaannya
4.
Berpartisipasi dalam penegakan aturan-aturan sosial
5.
Menghargai keberagaman agama, bangsa,
suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup global
6.
Membangun dan menerapkan informasi dan pengetahuan secara logis, kritis,
kreatif, dan inovatif
7.
Menunjukkan kemampuan berpikir
logis, kritis, kreatif, dan inovatif dalam pengambilan keputusan
8.
Menunjukkan kemampuan mengembangkan budaya belajar untuk pemberdayaan diri
9.
Menunjukkan sikap kompetitif & sportif untuk mendapatkan hasil yang
terbaik
10.
Menunjukkan kemampuan menganalisis
dan memecahkan masalah kompleks
11.
Menunjukkan kemampuan menganalisis gejala alam dan sosial
12.
Berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara
secara demokratis dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia
13.
Mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya
14.
Mengapresiasi karya seni dan budaya
15.
Menghasilkan karya kreatif, baik individual maupun kelompok.
16.
Menjaga kesehatan dan keamanan diri, kebugaran jasmani, serta kebersihan
lingkungan.
17.
Berkomunikasi lisan dan tulisan secara efektif dan santun.
18.
Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di
masyarakat.
19.
Menghargai adanya perbedaan pendapat dan berempati terhadap orang lain.
20.
Menunjukkan keterampilan membaca dan menulis naskah secara sistematis dan
estetis.
21.
Menunjukkan keterampilan menyimak, membaca, menulis, dan berbicara dalam
bahasa Indonesia dan Inggris.
22.
Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan tinggi
Hal ini berarti permerintah sangat memberikan perhatiannya
terhadap pendidikan karakter bagi pejalar agar terwujud generasi yang bermoral.
Seharusnya sekolah tidak hanya mengembangkan kecerdasan
intelektual saja tetapi juga membentuk kecerdasan dalam aspek emosional,
spiritulitas dan sosial pada diri pelajar sehingga pelajar juga memiliki kemampuan
untuk dapat berinteraksi sosial dengan dunia luar dan tidak terpenjara oleh
belenggu sekolah.[16]
B.
Pengajuan Hipotesis
Hipotesis
merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam kegiatan penelitian.
Hipotesis secara bahasa adalah dugaan sementara atau jawaban sementara.
Hipotesis adalah suatu hal sering dipermasalahkan dalam kegiatan penelitian.
Dengan
demikian dapat dipahami bahwa hipotesis adalah suatu pernyataan sementara
tentang hubungan dua variabel atau lebih. Benar atau tidaknya pernyataan tersebut
kan diuji berdasarkan hasil penelitian. Hasil pengujian ini akan menjadi
kesimpulan pokok dari kegiatan penelitian yang dilakukan.
Adapun
hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ” pendidikan karakter dari
orang tua berperangaruh positif terhadap sikap siswa dalam pengamalan moral pelajar
MAN 2 Tanjung Pura”.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A.
Metode Penelitian
Setiap penelitian harus didukung oleh
data-data untuk yang akan dianalisis. Untuk itu diperlukan metode dalam
penelitiannya.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Halini sesuai
dengan pena\dapat Surakhman dalam Dewi (2002 : 9) mengatakan,
”Penelitian Deskriptif merupakan penelitian yan bertujuan
dalam pemecahan masalah yang ada pada sekarang. Data yang di dapat di lapangan
dianalisis dan diinterprestasikan. Hasil dari analisis dan interprestasi data
ini akan diperoleh kesimpulan-kesimpulan penelitian.”
B.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MAN 2 Tanjung Pura jalan
Tengku Amir Hamzah No. 94 Kecamatan Tanjung Pura.
Waktu penelitian dilaksanakan pada tanggal 10-17 Juni 2010.
C.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan
objek yang akan diteliti. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pelajar di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura yang berjumlah 732 orang. Dari
jumlah populasi tersebut diambil 40 orang untuk dijadikan sampel penelitian.
Penarikan sampel dilakukan secara random sampling di tiga belas kelas yang ada
di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura.
D.
Instrument Pengumpul Data
Untuk mendapatkan data
penelitian yang dibutuhkan, dilakukan dengan beberapa metode :
1.
Observasi, yaitu
dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap lokasi penelitian,
berkenaan dengan keadaan sarana dan fasilitas di sekolah ini.
2.
Angket, yaitu dengan
memberikan seperangkat item pertanyaan terhadap siswa sampel penelitian
berkenaan dengan pengaruh pendidikan karakter dari orang tua terhadap sikap
siswa dalam pengamalan moral.
3.
Library reseach, yaitu
dengan melakukan penganalisisan terhadap buku-buku yang di tulis oleh pakar
pendididikan karakter dan pengamalan moral
E.
Teknik Pengumpulan Data
Untuk keperluan pengujian
hipotesis penelitian ini, maka kita perlu dilakukan teknik pengumpulan data,
yaitu menggunakan non tes. Teknik non tes dalam penelitian ini menggunakan
angket untuk mengumpulkan data pendidikan karakter dari orang tua dan sikap
pelajar dalam pengamalan moral. Bentuk angket adalah angket tertutup, yaitu
dengan menyediakan jawaban untuk setiap pertanyaan. Untuk aspek pendidikan
karakter dari orang tua untuk jawaban “ya” diberi nilai 3, jawaban “tidak”
diberi nilai 2 dan jawaban “kadang-kadang” diberi nilai 1. Untuk aspek sikap
siswa dalam pengamalan moral untuk jawaban “sering-sering” diberi nilai 3,
jawaban “kadang-kadang” diberi nilai 2 dan jawaban “sangat jarang” diberi nilai
1.
F.
Teknik Analisis Data
Angket yang penulis berikan
kepada responden siswa ternyata semua telah penulis terima kembali dengan
jawaban yang beragam, sehingga semua datanya dapat penulis olah. Pengolahan data
hasil angket adalah dengan cara menghitung persentase dari dua puluh pertanyaan
yang dibagi atas dua aspek penilaian yaitu pendidikan karakter dari orang tua
dan sikap siswa dalam pengamalan moral. Dengan menggunakan rumus Gullo
(1981:19)
P = F/N x 100%
Keterangan :
P = persentase
F = jumlah frekuensi
N = jumlah sampel/responden
% = persentasi jumlah
Untuk
menentukan taraf pengaruh pendidikan karakter dari orang tua terhadap sikap
siswa dalam pengamalan moral siswa di MAN 2 Tanjung Pura, digunakan skala
evaluasi menurut Arikunto (1998:201) :
80% - 100% = sangat
baik
70% - 79% = baik
60% - 68% = cukup
50% - 59% = kurang baik
< 40% =
sangat kurang baik
BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISA DATA PENELITIAN
A.
Pendidikan Karakter dari Orang
Tua
Sebagaiman telah diuraikan pada bagian metode penelitian, bahwa
alat yang digunakan untuk mendapatkan data adalah angket dengan 20 soal. 10
soal pertama mengenai pendidikan karakter dari orang tua kemudian 10 soal
selanjutnya mengenai sikap siswa dalam pengamalan moral
Dari hasil angket penelitian
yang telah diberikan kepada 40 responden untuk aspek pendidikan karakter dari orang
tua diperoleh data sebagai berikut :
|
No
|
Variasi jawaban
|
F
|
%
|
|
1
|
Ya
|
267
|
66.75
|
|
2
|
Tidak
|
52
|
13
|
|
3
|
Kadang-kadang
|
82
|
20.5
|
|
Jumlah
|
40
|
100
|
|
Berdasarkan data pada tabel diatas diketahui
bahwa 267 (66.75%) responden menyatakan bahwa ya orang tua menjadi teladan bagi
kehidupan. Dari skala evaluasi yang telah dikemukakan Arikunto maka didapat dikategorikan
cukup.
B.
Sikap Siswa Dalam Pengamalan
Moral
Dari hasil angket
penelitian yang telah diberikan kepada 40 responden untuk aspek sikap siswa
dalam pengamalan moral diperoleh data sebagai berikut :
|
No
|
Variasi jawaban
|
F
|
%
|
|
1
|
Sering
|
249
|
62.25
|
|
2
|
Kadang-kadang
|
111
|
27.75
|
|
3
|
Sangat
jarang
|
40
|
10
|
|
Jumlah
|
400
|
100
|
|
Berdasarkan data pada tabel diatas diketahui bahwa 249
(62.25%) responden menyatakan bahwa sering dalam pengamalan moral. Dari skala
evaluasi yang telah dikemukakan Arikunto maka didapat skala evaluasi cukup.
BAB
V
PENUTUP
Pembahasan dalam bab ini
merupakn bahasan yang terakhir dalm penelitian ini. Dalam bab ini dikemukakan
beberapa kesimpulan sebagai inti pembahasan terhadap objek pokok masalah yang
diteliti. Selanjutnya dikemukakan dalam beberapa saran yang berhubungan erat
dengan pokok kaitan masalah dalam penelitian ini.
A.
KESIMPULAN
Beberapa kesimpulan dari
hasil pembahasan terhadap pokok pembahasan dalam karya ilmiah ini adalah
sebagai berikut :
1.
Pendidikan karakter
dari orang tua terhadap siswa MAN 2 Tanjung Pura secara umum sudah cukup baik,
di mana para siswa umumnya menyenangi orang tua mereka dan menjadi contoh dalam
kehidupan mereka.
2.
Pengamalan moral yang
dilakukan siswa MAN 2 Tanjung Pura secara umum telah dilaksanakan dengan cukup baik,
sehingga dapat membina pribadi mereka dengan lebih baik.
3.
Pendidikan karakter
dari orang tua telah memeberikan pengaruh positif terhadap sikap siswa dalam
pengamalan moral bagi para siswa MAN 2 Tanjung Pura.
B.
SARAN
Adapun saran-saran penulis
sehubungan dengan pokok bahasan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.
Hendaknya orang tua
memberikan pengajaran dan dorongan kepada anaknya untuk bersikap dan bermoral
yangbaik
2.
Hendaknya orang tua
dapat mengarahkan dan mengawasi anak-anaknya agar senantiasa melaksanakan
berbagai ajaran agama Islam sebagai salah pelaksanaan moral dalam kehidupan
3.
Hendaknya siswa dapat
mengaktualisasikan ajaran pendidikan dari orang tua dengan lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi,
Abu. 1985. Psikologi Sosial Cet VII. Surabaya: PT Bina Ilmu.
Anwar,
Saeful. Tanpa Tahun. “Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam”.
Arikunto,
Suharsimi. 2998. Metodologi Penelitian.
Jakarta: Rineka
Cipta.
Asrori,
Muhammad. 2007. Psikologi Pembelajaran. Bandung:
CV Wacana Prima.
Departemen
Agama RI. 1982. Al Qur’an dan
Terjemahannya. Jakarta.
Depdikbud. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Koesoema, Doni. 2007. Pendidikan Karakter Strategi Pendidikan Anak Bangsa. Jakarta: Grasindo.
Hamid, Abdullah Muhyadin. 1990. Kegelisahan
Rasulullulah Mendengar Tangis Anak. Yogyakarta: Mitra Pustaka.
Langgulung,
Hasan. 1986. Manusia dan Pendidikan. Jakarta: Al Husna.
Loekmono, J.T. Lobby. 1994. Belajar Bagaimana Belajar. Jakarta: PT
BPK Gunung Mulia.
Situs-situs
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/30/14263248/pembentukan.karakter
[1] Anwar, Saepul, “Dasar dan
Tujuan Pendidikan Islam“, hlm 1
[3] Langgulung, Hasan, Manusia dan Pendidikan, (Jakarta: Al
Husna, 1986), hlm 37
[4] Baca :
Koesoema, Doni, Pendidikan
Karakter Strategi Pendidikan Anak
Bangsa, (Jakarta:
Grasindo, 2007), hlm 194, dari www.pendidikankarakter.org
, akses Minggu 13/06/10, jam 14.00 WIB
[5] http://narashelley.multiply.com/journal/item/8/Pendidikan_Karakter, akses Minggu 13/06/10, jam
14.00 WIB
[6] http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/30/14263248/pendidikankarakterharus holistik, akses Minggu 13/06/10, jam
14.00 WIB
[7] Asrori, Muhammad, Psikologi
Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2007), hlm. 121
[8]
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/30/14263248/pembentukan.karakter,
akses Minggu 13/06/10, jam 14.00 WIB
[9] Departemen Agama RI, Al
Qur’an Terjemahan, (Jakarta:
1982), hlm 498
[10] Hamid, Abdullah Muhyadin, Kegelisahan Rasulullulah Mendengar Tangis Anak, (Yogyakarta: Mitra
Pustaka, 1990), hlm. 205
[11] Loekmono, J.T. Lobby, Belajar
Bagaimana Belajar, (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1994), hlm. 44
[12] Ahmad, Abu, Psikologi
Sosial Cet VII, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1985), hlm 52
[13] Asrori, Muhammad, Psikologi Pembelajaran, (Bandung : CV Wacana Prima,
2007), hlm. 155
[14] http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-moral-dan.html akses Minggu
13/06/10, jam 14.00 WIB
[15] http://www.anakciremai.com/2008/07/makalah-psikologi-tentang-moral-dan.html akses Minggu 13/06/10, jam
14.00 WIB
Tidak ada komentar:
Posting Komentar